Pasar Keuangan RI Tertekan Ketua Banggar DPR Dorong Kepastian Fiskal untuk Stabilitas Ekonomi
Jangkauan Banten — Pasar Keuangan RI Tertekan Indonesia tengah menghadapi tekanan besar, seiring dengan fluktuasi nilai tukar Rupiah, inflasi yang cenderung meningkat, dan ketidakpastian global yang masih berlanjut. Ketegangan ini juga berdampak pada sektor perbankan dan investasi domestik, yang mempengaruhi daya beli masyarakat serta sektor riil. Untuk itu, Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Said Abdullah, mendesak pemerintah untuk segera memberikan kepastian fiskal yang lebih jelas, guna mengurangi ketidakpastian di pasar keuangan dan menjaga stabilitas ekonomi negara.
Menurut Said Abdullah, situasi yang tidak menentu di pasar keuangan saat ini menjadi tantangan besar bagi ekonomi Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor, baik dari dalam negeri maupun eksternal, termasuk ketidakstabilan harga komoditas, fluktuasi suku bunga global, serta gejolak ekonomi negara-negara besar yang mempengaruhi pasar regional.
Kondisi Pasar Keuangan yang Tertekan
Pasar keuangan Indonesia dalam beberapa bulan terakhir memang mengalami tekanan cukup berat. Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS tercatat terus terdepresiasi, mencatatkan penurunan yang signifikan. Hal ini dipicu oleh kebijakan moneter yang lebih ketat di negara maju, seperti kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (bank sentral AS), yang menyebabkan aliran dana keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Sementara itu, inflasi yang mulai meningkat juga menambah beban di pasar domestik. Kenaikan harga barang, terutama bahan pokok, serta tarif energi, mempengaruhi daya beli masyarakat, yang pada gilirannya mempengaruhi pertumbuhan ekonomi. Pasar saham Indonesia juga merespons dengan penurunan, mencerminkan ketidakpastian yang melanda dunia usaha.
Pemerintah Indonesia, melalui Bank Indonesia (BI), telah mencoba berbagai langkah untuk mengatasi masalah ini, seperti menaikkan suku bunga untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah. Namun, Said Abdullah menilai langkah tersebut belum cukup untuk mengatasi akar masalah, yang sejatinya membutuhkan kepastian fiskal dan kebijakan yang lebih terencana.
Baca Juga: 2 Institusi Akademik Tolak Permintaan Roy Suryo Cs Periksa Ijazah Jokowi
Dorongan untuk Kepastian Fiskal yang Lebih Jelas
Sebagai salah satu tokoh yang memimpin pembahasan anggaran negara, Said Abdullah mengingatkan bahwa kepastian fiskal menjadi kunci utama untuk memulihkan kepercayaan pasar. Kepastian ini dapat berupa penentuan kebijakan fiskal yang jelas, konsisten, dan dapat diprediksi dalam jangka panjang. Hal ini akan memberikan rasa aman bagi investor, baik domestik maupun asing, untuk menanamkan modal di Indonesia.
“Ketidakpastian fiskal yang kita hadapi ini mempengaruhi kestabilan pasar keuangan. Tanpa itu, pasar tidak akan percaya, dan dampaknya adalah inflasi yang tinggi, nilai tukar yang tertekan, dan sektor riil yang terhambat,” ujar Said Abdullah dalam sebuah diskusi ekonomi di Jakarta.
Pentingnya Pemulihan Sektor Riil dan Investasi
Dalam diskusi tersebut, Said Abdullah juga menekankan pentingnya pemulihan sektor riil dan menciptakan iklim investasi yang lebih kondusif. Menurutnya, sektor riil, yang mencakup usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta industri manufaktur, merupakan pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tanpa sektor ini pulih, ekonomi Indonesia akan sulit beranjak dari tekanan global yang saat ini sedang terjadi.
“Kita harus memberikan dukungan nyata kepada sektor riil agar mereka dapat bertahan dan berkembang. Pemerintah perlu memberikan insentif fiskal, mempercepat reformasi struktural, dan memberikan kemudahan berusaha. Selain itu, penting untuk menjaga kestabilan harga bahan pokok dan energi yang menjadi faktor penentu daya beli masyarakat,” kata Said Abdullah.
Selain itu, Said Abdullah juga menyoroti pentingnya meningkatkan daya tarik investasi di Indonesia, khususnya melalui kebijakan fiskal yang ramah investasi. Di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian, Indonesia perlu menunjukkan keseriusan dalam menjamin keamanan dan kepastian bagi investor.
Solusi untuk Mengatasi Tekanan pada Pasar Keuangan
Selain itu, ia juga mendorong pemerintah untuk lebih fokus pada pengelolaan utang negara. Menurutnya, kebijakan pengelolaan utang yang baik, yang memprioritaskan utang jangka panjang dengan bunga rendah, akan membantu menjaga stabilitas fiskal negara, serta mengurangi risiko terhadap fluktuasi pasar.
“Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah untuk menjaga keseimbangan anggaran dan utang, agar pasar dapat melihat Indonesia sebagai negara yang memiliki fiscal space yang cukup. Ini akan memberikan keyakinan kepada investor, baik domestik maupun internasional,” ujar Said Abdullah.
Respons Pemerintah dan OJK terhadap Tantangan Pasar
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia terus memantau perkembangan pasar keuangan dan ekonomi secara menyeluruh.
Sementara itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga bekerja sama dengan pemerintah untuk memastikan stabilitas sektor keuangan, baik perbankan maupun pasar modal.






