China Tak Terima Dalai Lama Dapat Penghargaan Grammy, Singgung Jejak Separatisme
Jangkauan Banten – China Tak Terima Dalai telah mengeluarkan pernyataan keras terkait penghargaan yang diterima oleh Dalai Lama pada ajang Grammy Awards 2026. Pemimpin spiritual Tibet tersebut dianugerahi penghargaan khusus dalam kategori Best Spoken Word Album untuk karya terbarunya, sebuah rekaman yang berisi ajaran dan pemikirannya tentang kedamaian dan spiritualitas. Namun, penghargaan ini memicu kecaman dari pemerintah China, yang menganggapnya sebagai bentuk dukungan terhadap “agenda separatisme” yang mereka anggap dikaitkan dengan Dalai Lama.
Pemberian penghargaan tersebut, yang diberikan pada acara penganugerahan Grammy yang berlangsung di Los Angeles pada 5 Februari 2026, dinilai sebagai penghormatan kepada tokoh yang sejak lama dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap otoritas Beijing terkait dengan status Tibet. Dalai Lama, yang kini berusia 90 tahun, telah lama tinggal di pengasingan di India setelah melarikan diri dari Tibet pada tahun 1959, setelah pemberontakan gagal melawan pemerintah China. Sejak itu, China menuduhnya sebagai pemimpin separatis yang berusaha untuk memisahkan Tibet dari negara itu.
Kecaman China terhadap Penghargaan Dalai Lama
Menanggapi penghargaan yang diberikan kepada Dalai Lama, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian, mengecam tindakan tersebut sebagai “penghormatan terhadap tokoh yang terlibat dalam separatisme.” Dalam pernyataannya, Zhao menekankan bahwa penghargaan tersebut adalah penghargaan yang tidak layak diberikan kepada seseorang yang dianggap “mengganggu kedamaian dan stabilitas nasional China.”
“Dalai Lama adalah tokoh yang selama ini mendukung upaya separatisme di Tibet dan telah berusaha memisahkan Tibet dari China. Kami menilai bahwa penghargaan yang diberikan kepada Dalai Lama dalam ajang internasional ini adalah bentuk pengakuan terhadap separatisme dan tidak dapat diterima oleh pemerintah China,” ujar Zhao dalam konferensi pers resmi.
China juga menyebutkan bahwa penghargaan tersebut dapat merusak hubungan diplomatik dan menambah ketegangan yang sudah ada terkait dengan isu Tibet. “Kami mendesak komunitas internasional untuk menghormati prinsip kedaulatan dan integritas teritorial China serta menghentikan segala bentuk dukungan terhadap aktivitas yang dapat mengganggu kedamaian di Tibet,” tambah Zhao.
Baca Juga: Terimpit Ekonomi Penyintas Banjir di Huntara Kampung Nelayan Terjerat Tagihan Listrik dan Air
Reaksi Internasional terhadap Penghargaan Dalai Lama
Meskipun China memberikan kecaman tajam terhadap penghargaan tersebut, banyak kalangan internasional yang memberikan apresiasi terhadap Dalai Lama atas kontribusinya dalam menyebarkan pesan perdamaian, toleransi, dan spiritualitas. Para pendukung Dalai Lama menilai penghargaan Grammy ini sebagai pengakuan terhadap perjuangannya untuk hak asasi manusia dan kebebasan beragama.
Beberapa tokoh internasional, termasuk aktivis hak asasi manusia, akademisi, dan pemimpin spiritual, menyambut baik penghargaan ini. Mereka menilai Dalai Lama sebagai seorang tokoh yang mempromosikan perdamaian dunia dan menghargai kebebasan beragama. “Dalai Lama adalah simbol ketenangan dan kebijaksanaan. Penghargaan ini adalah bentuk pengakuan terhadap komitmennya untuk mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan yang universal,” ujar Mary Robinson, mantan Presiden Irlandia dan mantan Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia.
Penghargaan ini juga disambut positif oleh banyak penggemar Dalai Lama di seluruh dunia yang menganggapnya sebagai langkah penting dalam memastikan bahwa suara perdamaian dan toleransi tetap didengar di tengah ketegangan politik global. “Dalai Lama telah memberikan inspirasi kepada jutaan orang di seluruh dunia untuk hidup dengan lebih bijaksana dan penuh kasih sayang. Penghargaan ini layak diberikan kepada beliau,” kata Tomasz Wrobel, seorang penggemar asal Polandia.
Dalai Lama dan Isu Tibet: Kontroversi yang Tak Pernah Reda
Isu Tibet telah menjadi sumber ketegangan antara China dan negara-negara Barat selama lebih dari setengah abad. Tibet, yang pada 1950 dianeksasi oleh China, telah menjadi wilayah yang sangat kontroversial dalam konteks hubungan internasional. Setelah Tibet dijajah, Dalai Lama yang saat itu memimpin sebagai Kepala Negara dan Pemimpin Spiritual Tibet, melarikan diri ke India pada tahun 1959 setelah kegagalan pemberontakan Tibet. Sejak itu, ia memimpin pemerintahan Tibet dalam pengasingan, dan terus menyerukan kemerdekaan Tibet, meskipun posisinya telah berubah menjadi dukungan untuk otonomi yang lebih besar bagi wilayah tersebut dalam kerangka negara China.
China secara konsisten menuduh Dalai Lama dan para pendukungnya sebagai penghasut separatis yang mencoba memecah belah negara tersebut. Di sisi lain, Dalai Lama selalu menekankan bahwa perjuangannya adalah untuk kebebasan beragama, hak asasi manusia, dan otonomi yang lebih besar untuk Tibet dalam kerangka persatuan dengan China. Ia juga mengupayakan pendekatan damai untuk menyelesaikan masalah Tibet, meskipun Cina menanggapi dengan keras setiap upaya yang dianggap mengancam kedaulatan negara mereka.
China Tak Terima Dalai Grammy dan Kontroversi Seputar Penghargaan
Penghargaan Grammy kepada Dalai Lama semakin menambah panjang daftar kontroversi yang mengelilingi pengakuan internasional terhadap tokoh tersebut. Sebelumnya, beberapa negara dan organisasi internasional telah menyuarakan dukungannya terhadap Dalai Lama, meskipun mereka menghadapi kritik keras dari China. Banyak pengamat yang menilai bahwa penghargaan ini lebih dari sekadar pengakuan atas karyanya dalam bidang spiritualitas, tetapi juga sebagai simbol perlawanan terhadap kebijakan China di Tibet.
Namun, tidak sedikit juga yang berpendapat bahwa penghargaan tersebut mungkin saja memiliki dampak politik yang lebih besar. Pemberian penghargaan ini dapat dianggap sebagai dukungan terhadap perlawanan Tibet terhadap kebijakan otoritarian China dan menambah ketegangan yang sudah ada antara China dan negara-negara Barat, terutama dalam konteks hubungan internasional yang semakin kompleks






