Buruh Tolak UMP Jakarta Rp 5,7 Juta: Belum Capai Standar Hidup Layak, BPS Masih Nombok
Jangkauan Banten — Buruh Tolak UMP Jakarta Ratusan ribu buruh di Jakarta menggelar aksi protes menanggapi keputusan pemerintah yang menetapkan Upah Minimum Provinsi (UMP) Jakarta 2025 sebesar Rp 5,7 juta.
Tuntutan Buruh dan Aksi Protes
Ia juga mengungkapkan bahwa para buruh menginginkan upah minimum yang setara dengan angka KHL, yaitu sekitar Rp 8 juta, yang lebih mencerminkan tingkat kebutuhan dasar di Jakarta. Beberapa kebutuhan pokok yang mendesak untuk diperhitungkan, menurut serikat pekerja, termasuk biaya tempat tinggal, transportasi, pangan, pendidikan, dan kesehatan yang terus merangkak naik.
Baca Juga: WNA Kanada Terjatuh saat Hiking di Air Terjun Cyclop Jayapura Tim SAR Butuh 7 Jam untuk Evakuasi
BPS: UMP Masih “Nombok”
Dalam laporan tersebut, BPS menyebutkan bahwa angka UMP Jakarta masih “nombok” atau kurang dari angka yang seharusnya untuk memenuhi standar hidup yang layak (KHL). “Meskipun ada kenaikan pada UMP Jakarta, data kami menunjukkan bahwa angka tersebut belum mencakup semua kebutuhan dasar pekerja yang sebenarnya. Untuk itu, kami berharap ada evaluasi lebih lanjut terhadap penetapan UMP ini,” kata Endang.
Buruh Tolak UMP Jakarta Masyarakat dan Pemerintah Dapat Menanggapi Isu Kenaikan Biaya Hidup
Selain dari perspektif buruh, masyarakat Jakarta juga merasakan beban yang semakin berat dengan kenaikan biaya hidup yang terus meningkat. Biaya sewa rumah, terutama di kawasan pusat kota, sudah melebihi kemampuan sebagian besar pekerja. Sementara itu, harga pangan dan kebutuhan sehari-hari tidak menunjukkan penurunan yang signifikan, meskipun ada upaya dari pemerintah untuk mengontrol inflasi.
Untuk itu, banyak pihak yang mendorong pemerintah daerah untuk menyesuaikan kebijakan ekonomi dan sosial agar dapat lebih mencerminkan kenyataan yang ada di lapangan. k Cukup
Menurut mereka, jika upah tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dasar, maka para pekerja akan menghadapi kesulitan ekonomi yang dapat mengurangi kualitas hidup mereka.
“Apa yang terjadi di Jakarta adalah gambaran umum dari kesenjangan yang semakin lebar antara pendapatan dan biaya hidup. Jika upah minimum tidak memadai, akan ada tekanan lebih besar terhadap pekerja, yang pada akhirnya berdampak pada kualitas hidup mereka,” kata Ekonom Universitas Indonesia, Dr. Rizal Mallarangeng.
Selain itu, tingkat pengangguran dan kemiskinan yang lebih tinggi di kalangan buruh dengan penghasilan minim dapat memperburuk ketimpangan sosial di masyarakat. Hal ini juga dapat berujung pada lebih banyaknya buruh yang terpaksa bekerja sambilan atau mengandalkan utang untuk menutupi kekurangan pendapatan mereka.
Buruh Tolak UMP Jakarta Pemerintah Diharapkan Menanggapi Kebutuhan Buruh
“Harapan kami adalah pemerintah tidak hanya melihat dari sudut pandang angka, tetapi benar-benar memahami tantangan yang kami hadapi sehari-hari. Ini bukan hanya soal angka, tetapi soal kualitas hidup kami,” ujar Said Iqbal.
Buruh juga mendesak pemerintah untuk lebih aktif dalam mengontrol kenaikan harga barang dan memperbaiki kesejahteraan pekerja melalui program-program sosial yang lebih efektif, seperti subsidi untuk sektor pangan dan perumahan, serta jaminan kesehatan yang lebih terjangkau.
Kesimpulan
Meskipun UMP Jakarta 2025 telah mengalami kenaikan yang signifikan menjadi Rp 5,7 juta, banyak buruh yang masih menganggap angka tersebut belum mencerminkan standar hidup layak. Pemerintah dan pihak terkait perlu melakukan evaluasi lebih lanjut terkait penetapan UMP, dengan memperhatikan kondisi ekonomi riil dan kebutuhan dasar yang terus berkembang di Jakarta. Sebagai ibu kota negara dengan biaya hidup yang tinggi, Jakarta membutuhkan kebijakan yang dapat memenuhi ekspektasi dan hak-hak buruh untuk hidup layak dan sejahtera.






